Pages

Interview Dengan Pas FM, Radio Bisnis Surabaya

Tanggal 19 Maret 2013 saya mendapat message di Facebook LimeLeaves, dari radio Pas FM Surabaya. Intinya mereka ingin mewawancara saya untuk tips dan trik bisnis LimeLeaves. Saya setuju untuk hadir wawancara pada Jumat 22 Maret, pukul 13:00 WIB. Tapi ternyata besoknya, saya mulai merasa ada gangguan pada diri saya. Saya kena flu ringan, yang saya alami mulai sekitar pukul 09:00 sampai sore, sekitar 15:00. Wah, alamat berhalangan ke Surabaya pada hari Jumat. Nah, daripada saya nanti mengacaukan schedule teman-teman di Pas FM, maka saya putuskan untuk mengajukan penawaran wawancara by phone. Tahun lalu saya juga pernah diwawancara oleh Kompas TV by phone, dan pihak Kompas TV tak mengeluhkan kualitas telepon saya, sehingga saya pikir why not untuk dicoba by phone? Lalu, saya dijadwalkan Kamis untuk interview by phone.

Hari Kamis, 21 Maret 2013 pukul 10:00, interview by phone dilakukan. Oiya, sebelumnya saya sudah mendapat draft wawancara, supaya saya bisa mempersiapkan jawabannya, agar wawancara berlangsung lancar. Berikut ini kurang lebih hasil wawancaranya :


1. Latar belakang berdiri perusahaan. (kenapa memilih bisnis ini, pemilihan nama apakah ada background tertentu)
Nama LimeLeaves, yang artinya daun jeruk, saya pilih karena daun jeruk itu sangat Indonesia. Hampir semua masakan Indonesia menggunakannya, dan kalau masakan ditambahkan daun jeruk, rasanya akan enak. Itulah filosofinya. 
Bisnis ini saya pilih karena : saya memang suka membuat aneka barang handmade. Saya percaya, jika bisnis kita lakukan dibidang yang kita sukai, maka pasti ada semangat untuk menyelesaikan semua masalah dalam bisnis itu.

2. Target pemasaran, strategi pemasaran seperti apa 
Target pemasaran saya adalah : perempuan dari segala usia (dari bayi hingga nenek). Oleh karena itu, mulai dari pemilihan nama bisnis, produk, hingga bahasa komunikasi yang saya pergunakan, saya usahakan selalu kental dengan nuansa perempuan.
Strategi pemasaran : Saya memasarkan secara online, dan melalui berbagai bazaar dan pameran. Secara online saya pergunakan untuk membidik perempuan yang suka online pula. Belanja online itu praktis, tidak perlu meninggalkan rumah/kantor, untuk perempuan yang sibuk, belanja online adalah jawaban. Sedangkan bazaar dan pameran saya lakukan untuk memperkenalkan produk kami pada perempuan yang suka hang out.
Selain itu, komunikasi yang baik dengan konsumen adalah prinsip kami. LimeLeaves selalu berusaha menjalin komunikasi dengan konsumen, menjaga komunikasi tetap berjalan, dan menjalinnya dengan tulus.
LimeLeaves juga menerapkan diskon sebesar 30% untuk pembelian di masa launching produk, yaitu 2 hari sejak di-launching. Program ini sangat diminati oleh banyak konsumen, karena mereka bisa membeli produk handmade yang fresh dengan harga lebih murah.

3. Produk unggulannya apa
Produk unggulan LimeLeaves adalah dompet, tas, bando/headband, dan kartu ucapan. LimeLeaves juga sedang memadukan dua budaya, yaitu Indonesia dan Jepang. Mengapa dipilih 2 budaya ini? Karena Indonesia dan Jepang sama-sama memiliki akar budaya yang sangat kental dan beragam. Jika budaya itu kembali menjadi sebuah trend, maka filosofi budaya akan ikut merasuk ke dalam pemakainya, dan ini efeknya akan sangat bagus, karena budaya memiliki nilai luhur yang sangat baik jika dijadikan nilai dan pandangan hidup masyarakat.
Budaya Indonesia diterapkan oleh LimeLeaves dengan menggunakan berbagai kain tradisional dalam tas, dompet, baju, dan sepatu bayi.
Sedangkan Jepang diterapkan melalui pemakaian washi paper dan pembuatan washi ningyou (boneka khas Jepang yang dibuat dengan washi paper).

4. Bagaimana perkembangannya sejauh ini
Perkembangan bisnis LimeLeaves makin baik, pemasaran makin bagus, dan produk makin dikenal dan dipakai banyak perempuan. Kami juga melakukan pemasaran secara internasional melalui marketplace Etsy (www.etsy.com). Tanggapan dunia internasional pun makin baik. Mereka suka dengan pemakaian batik tulis, kain sasirangan, dan kain batik Papua yang kami pergunakan.

5. Kendala dalam memasarkan produk
Kendala terutama ada pada persepsi harga. Masyarakat masih sering menyamakan produk handmade dengan produk pabrikan yang dibuat dengan mesin. Jadi, mereka merasa harga produk handmade itu terlalu mahal. Padahal, handmade itu dibuat dengan penuh perhatian dari pengerjanya.

6. Prospek bisnisnya bagaimana?
Walau ada kendala seperti yang saya tulis di atas, tapi saya memandang bisnis ini punya prospek bagus. Ini tampak dari kecenderungan bertambahnya jumlah konsumen yang tidak mempertanyakan tentang harga. Mereka hanya menanyakan spesifikasi produk.

7. Planning ke depan apa
Planning ke depan : membuat LimeLeaves dikenal banyak orang. Kami tidak buru-buru memikirkan profit keuangan. Ketika brand sudah dikenal banyak orang, saat itulah keterlibatan konsumen akan meningkat, dan profit pun mulai berdatangan. Saat ini LimeLeaves sudah merasakan peningkatan profit yang significant sejak akhir tahun lalu. Ini sangat menggembirakan, karena bisa jadi sebuah acuan bahwa nilai-nilai budaya yang diusung oleh LimeLeaves telah bisa diterima masyarakat, baik masyarakat Indonesia sendiri, dan dunia internasional.

8. Tips berbisnis
Cakupan sebuah bisnis itu sangat luas, tidak melulu tentang meningkatkan pemasukan, tapi mencakup aspek sosial, produk, dan pribadi pelaku bisnis itu sendiri. Dengan meningkatkan pengetahuan tentang aspek-aspek tersebut, maka pelaku bisnis akan mendapatkan pemecahan dalam tiap masalahnya.

Wawancara ini belum ditayangkan. Menurut kontak Pas FM, akan ditayangkan pada bulan April, dan akan diberitahukan tanggalnya pada H-1. Jika teman-teman ingin stay tune pada wawancara saya, maka bisa didengarkan melalui streaming online di http://pasfm.com, tapi harus register dulu, dan login. Jika tidak register maka option streaming online tidak tampak.

Semoga wawancara ini bisa menginspirasi.

Maria Magdalena

Hai, saya Maria, ibu dari seorang putra yang sudah menginjak usia remaja. Saya suka membuat handmade, dan saya suka membuat handmade yang memiliki nilai seni.